Fajar telah bersinar lembut selembut sutra, angin berhembus sepoi-sepoi, dedaunan penuh dengan embun pagi yang segar, dan udara kian hangat untuk dihirup pagi itu. Seperti biasa Joni (panggilan sehari-harinya) bergegas untuk pergi ke kampus, ya biasa ada jam kuliah pagi dan dosennya pun terkenal kejam, sadis dan bengis (menurut sebagian orang). Namun baginya semua dosen itu baik semua hanya saja mungkin kebiasaan buruk setiap dosen yang membuat citra dimata para mahasiswa dirasakan begitu berbeda. Ada yang bilang cerewetlah, kejamlah, kurang kerjaanlah dan bahkan ada yang sampai dibilang killer. Tapi Joni tetaplah Joni, nyaman dan santai seolah-olah hal tidak ada yang perlu dirisaukan dan dikhawatirkan dengan masalah itu.
Selain kegiatan dikampus untuk belajar menuntut ilmu, kalau sore harinya dia bekerja sampai malam (paruh waktu) sebagai pelayan di cafe. Kebiasaannya bekerja sudah ia tekuni sejak kecil semenjak ayahnya meninggla kira-kira sewaktu menginjak SMP. Tidak hanya itu saja kalau ada waktu senggan juga sering meluangkan waktunya untuk hobinya waktu kecil yang sampai sekarang masih digemari dan ditekuninya yaitu memancing. Kebiasaan seperti itu sudah dianggap biasa oleh Joni karena ya sudah biasa jawabnya ketika sering ditanya teman-temannya.
Bintang bermunculan berkelap-kelip seolah menyapa keberadaan Joni waktu selesai kerja di Cafe 1 kilometer dari kampusnya. Malam begitu cerah membuat suasana hati begitu gembira. Mulailah ia melangkahkan kakinya menuju tempat kos sambil berdendang dan bergoyang mengusir rasa penat dan lelahnya. Tak berapa lama nampak sekilas wajah cantik nan indah memukau pandangan matanya seraya dia berhenti untuk menyapanya, namun apa daya karena rasa malu yang amat sangat sehingga enggan untuk meneruskan niatnya. Sinta, nama gadis idamannya itu. Sudah lama Joni memendam rasa namun tidak berani untuk mengungkapkan isi hatinya.
Ia hanya bisa memandang dan memandang saja sampai sedetikpun tak berkedip bulu matanya yang indah itu. Namun dia langsung sadar dari hayalannya itu tatkala sang gadis pujaan mendekati. Tubuh bergetar, keringat dingin bercucuran, jantung berdebar-debar ketika sang pujaan dengan sedikit senyum yang memukau dan suara yang indah menyapanya.
– Malam Joni apa kabar? Sedang apa disini kok sendirian? –
Mendengar kata-kata itu Joni menjadi gugup tidak karuan, mulutnya begitu berat untuk menjawab hanya mengangguk dan sedikit senyum dilontarkannya.
– lho kok diam, emangnya ada apa? Ayo dong ngomong? –
Lagi-lagi muluntya enggan mengeluarkan suara namun Joni pun memberontak dan berbisik dalam kalau ia bisa berbicara.
– malam juga …. (sambil tersipu malu). –
– oh iya kok belum dijawab, kamu habis darimana? –
Untuk kesekian kali mulut Joni memang benar-benar tidak bisa diajak kompromi padahal waktu itu adalah kesempatannya untuk ngobrol dengan sang pujaan. Begitu beratnya kalau lagi dilanda asmara sampai ngomong tak bisa dilakukannya. Lagi-lagi hati Joni memberontak dan akhirnya keluarlah segala kemampuan bicaranya.
– oh…. aku habis dari kerja biasa untuk modal kuliah –
– Wah hebat juga ya kamu nggak kayak aku yang bisanya hanya minta ke orang tua kalau nggka dikasih yang nangis –
– ah.. nggak juga kok kamu itu hebat, sudah pinter cantik lagi .. (agak memuji dengan sidikit malu)…–
– bisa saja kamu Jon –…
Alhasil obrolan mereka semakin akrab saja padahal jarang sekali bertatap muka hanya bisa curi pandang dan sesekali melempar senyum sewaktu berjumpa padahal jarak antara tempat kosnya tidak begitu jauh malah bisa dibilang dekat. Langkah kaki semakin jauh dari cafe dan semakin dekat dengan tempat kos mereka, semakin akrab dan mesra obrolan mereka hingga hati kecil Joni mulai bergetar seolah berbisik kepadanya inilah waktu yang tepat.
– wah sudah sampai nih, kalau gitu aku duluan ya Jon –
Joni tak berkata apa-apa hanya mengangguk dan senyum kepadanya. Tapi tetap saja hatinya berdetak dan bergetar kencang seolah mengajak Joni untuk sekali lagi menyapa sang pujaan. Ia bingung apa yang harus dilakukannya, sudah lama menahan rasa berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, bisa dibilang hampir satu tahun lamanya rasa didalam hatinya kepada sang pujaan.
Dengan penuh kejantanan dan segenap keberanian yang dimiliki akhirnya Joni pun mencoba menyapanya.
– Sin….. (dengan nada lirih sambil gugup kata yang terucap dari bibirnya).. –
– Ya, ada apa Jon? –
– ehm…ehm…aku…aku…. –
– ehm apa? Hayo dong ngomong buruan da malam nih! –
– ehm…aku…aku… –
– tuhkan lagi-lagi gitu…aku apaan? –
– aku cinta kamu sin? –
Nampak wajah pucat pasi, sambil bibir bergetar karena gugup, dada berdetak kencang, kepala menunduk tersipu malu dari Joni. Entah apa yang barusan dikatakannya, ia tak menyangka akan seberani ini mengungkapkan isi hatinya kepada gadis pujaannya itu. Rasa was-was dan takut seandainya sang punjaan akan marah dan membencinya, tapi hal itu sudah terjadi tidak bisa diulang kembali hanya sebuah harapan dihatinya semoga saja sang gadis tidak murka akan perkataannya. Joni pun sesekali menelan ludahnya seraya tenggorokannya kering kerontang menunggu jawaban hidup dan mati perjalanan cinta sang pujangga.
– ehm .. Jon, apa aku tidak salah dengar?! Apa kamu serius dengan kata-katamu itu?
Mendengar jawaban itu, Joni mulai agak ketakutan, gugup, hatinya semakin berdetak kencang karena khawatir yang amat sangat. Didalam hatinya berbisik pasti sinta marah sama aku, duh sungguh bodohnya aku. Namun Joni pun tak bisa diam saja dia harus menjawab pertanyaan sinta, meski agak gugup dan cemas akhirnya Joni pun untuk kedua kalinya kembali mengucapkan kata-katanya yang tadi.
– aku…aku cinta kamu Sin, aku saying kamu Sin… –
– apa itu benar Jon?! –
Seraya heran tak percaya Joni berkata seperti itu padanya karena yang ia tahu adalah Joni seorang yang pendiam dan pemalu sehingga Sinta pun merasa heran dan terkejut.
– aku cinta kamu Sin, aku saying kamu Sin, aku serius berkata begini Sin, aku nggak main-main –
Dengan nada menyakinkan pada Sinta, Joni berharap dia percaya akan perkataanya. Namun kembali Joni pasrah akan apa yang ia terima.
Langkah kaki gadis pujaan semakin dekat ia rasakan, Sinta tidak menjawab apa-apa hanya melangkah semakin dekat dan semakin dekat dengan Joni sambil malu-malu Sinta pun akhirnya dapat mendekati Joni, dan dia…..
– aku juga cinta kamu Jon –
Sambil mengecup kening Joni dengan penuh mesra malu-malu, Sinta meninggalkan Joni ditengah malam dengan perasaan bangga dan bahagia seolah-olah ungkapan isi hati Joni yang diterimanya merupakan hadiah yang paling indah. Joni pun tak menyangka akan seperti ini akhirnya, indah dirasa bagai mendapat sebuah nobel. Wajah pucat dan pasi pun akhirnya hilang yang tersisa hanyalah rasa bahagia yang amat sangat hingga sesak didada menahannya. Sungguh berat dan butuh perjuangan yang dasyat bagi seorang Joni untuk melakukan hal itu, sungguh Joni tak bisa percaya apa yang telah terjadi, sambil menghela nafas panjang dan perasaan bahagia Joni pun mulai meninggalkan tengah malam yang sunyi menuju tempat kosnya dan bersiap untuk menghadapi hari esok yang indah dan indah selalu.
*- Mr. GPK-*
DIarsipkan di bawah: Artikel, cerpen | Ditandai: Artikel, banyuwangi, cerpen, sma 2 genteng, sma banyuwangi









bikin sendiri ya cerpennya?pengalaman pribadikah?he..he..he…