Dzikir Cinta

Kutarik nafas panjang dari kedua lubang hidungku, semakin dalam kutarik semakin dalam kurasakan kekuatan udara yang kuhirup. Melewati tenggorokan keringku dengan kekuatan yang dasyat hingga terasa sejuk dan nyaman seolah-olah tenggorakan yang kering berubah menjadi basah dan segar. Sesak di dada mulai hilang dengan terisinya udara dzikir yang kuselipkan dengan perlahan dan tenang menenteramkan hati dan jiwaku. Berulang-ulang aku lakukan dengan penuh hikmat dan mantap sambil mengjirup udara segar disekelilingku sambil pula kuselipkan asma Allah sebagai pengiringnya.

  Baca lebih lanjut

Runtuhnya Dinding Iman

Paras yang putih bagaikan salju yang turun lembut di daratan dengan sedikit angin yang berhembus sepoi-sepoi selembut sutra. Tubuh tegap setegak tiang bendera yang kokoh. Namun kini matanya berkaca-kaca menyesali nasib yang telah terjadi tapi apa daya nasi telah menjadi bubur hanya penyesalan dan penyesalan yang penuh sesak di dalam dada. Tiap kali mengenang masa lalunya tiap kali itu pula cucuran air mata penyesalan mulai runtuh dari mata indahnya itu. Entah iblis apa yang membuatnya terperosok kedalam lembah kenistaan dan kehampaan.

Baca lebih lanjut

Suara Penyejuk Hati

Aldo, begitu biasanya dia dipanggil oleh teman-temannya. Lengkapnya Muhammad Reivaldo Al Manaf. Lugu dan lucu dengan baby face gelar yang disandang pemberian sahabatnya sewaktu kuliah. Sudah hamper 2 tahun dia menapaki hidup dalam perjuangan hidup mencari nafkah demi sesuap nasi dan seteguk air. Tak banyak tentang kisah mudanya, yang bisa dikenang hanyalah perjuangan-perjuangan yang tiada hentinya. Detik ke detik menjamah Menit. Menit ke menit menjamah jam. Dan sudah berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dia habiskan hanya sekedar bisa hidup dan bertahan dari ganasnya deburan ombak kehidupan dunia.

Baca lebih lanjut