Dibalik Jeruji

Air matanya becucuran, dikalan ia ingat akan peristiwa pedih dan nista waktu itu, mengalir deras ke dasar lantai yang kotor dan bau. Penyesalan yang ia rasakan begitu dalam sampai ke tulang-tulang kecilnya. Dosa besar apa yang ia lakukan sampai harus berada dibalik jeruji besi Polres Besuki. Sehari-hari yang ia lihat hanyalah tembok kotor berukuran 4×3 meter, kanan kirinya sesak dengan kawan sekamar, tak hanya itu saja bau pesing dan busuk terbawa angin sampai ke lubang hidungnya menambah seram dan ngerinya kamar penjara.

 

2 bulan sudah Azkar di dalam buih, entah sampai kapan ia mampu bertahan disana, karena vonis telah dijatuhkan akhirnya 5 tahun harus mendekam penuh dengan kesunyian dan kehampaan. Karena fitnah belaka, fitnah ternista yang pernah ia rasakan. Fitnah sang Yolanda si gadis penakluk hati pria. Pesonanya yang ia taburkan sampai kepada Azkar yang kini justru menjerumuskannya.

 

Sejenak merenung dan sejenak melamun, apa yang ia lakukan dan apa yang ia rasakan, begitu berbeda dan sangat berbeda. Mulanya Azkar dengan nama lengkapnya Muhammad Azkar Jauhari, hanyalah laki-laki biasa, seorang anak petani kecil di kampung baru dekat sungai Bengawan. Sehari-harinya selain membantu ayahnya di sawah, ia juga sedang aktif menyelesaikan studinya di universitas swasta jurusan ekonomi. 

 

Keluguan dan kesederhanaannya membuat ia banyak disukai teman-temannya. Terutama si Siti teman sebangkunya dan teman semasa kecilnya sampai sekarang. Siti sangat faham dan tahu betul sikap dan tabiat Azkar sehingga waktu Azkar masuk buih Siti sungguh sangat tidak percaya dan mengelak kalau Azkar melakukan perbuatan nista itu. Namun apa daya karena bukti sudah didepan mata tapi hati Siti tetap teguh akan pendiriannya bahwa Azkar tidak bersalah.

 

Masih tertanam jelas di ingatan Siti peristiwa waktu itu tepatnya hari Minggu pagi di hotel nusantara kamar 101. Azkar tak berdaya dan tak mampu menahan betapa malunya karena tertangkap basah oleh polisi dan beberapa rekan Yolanda maupun teman Azkar sendiri. Azkar ketahuan sedang tidur bersama Yolanda yang hanya ditutupi oleh selembar selimut tebal berwarna putih. Yolanda menjerit dan menangis tersedu-sedu seakan-akan menyalahkan Azkar telah melakukan semua ini. Yolanda menuduh Azkar telah menodainya.

 

Azkar pun tak terima dikatakan telah menodai Yolanda, namun apa daya bukti telah jelas semuanya yang pada akhirnya ia hanya pasrah menunggu keadilan dan keajaiban datang kepadanya. Siti pun kaget dan syok akan peristiwa itu dan masih tidak percaya kalau benar-benar terjadi.

 

Siti sebenarnya ada hati pada Azkar sejak SMA dulu, tapi ia malu untuk mengungkapkannya. Dan iapun juga tahu kalau sebenarnya Azkar suka padanya, namun karena sama-sama malu akhirnya cinta tak kunjung memberkati mereka berdua. Semenjak kenal Yolanda di kampus, sifat Azkar terhadap Siti berubah ya meski sedikit tapi hati Siti peka, karena sebagai wanita ia tahu persis kalau Azkar dilanda asmara oleh kecantikan Yolanda. Sehingga rasa perhatian pun kini mulai memudar seiring dengan berjalannya waktu.

 

Semakin hari semakin lengket dan dekat hubungan Yolanda dan Azkar sampai-sampai Siti cemburu, meskipun ia siapa-siapanya Azkar. Yang pada akhirnya kelengketan mereka membawa Azkar kebalik jeruji penjara. Pedih, sakit, kecewa, dan rasa penyesalan yang amat sangat menghantuinya di penjara entah sampai kapan semuanya akan berakhir.

*- Mr. GPK -*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: